ISLAM DAN TRADISI LOKAL DI NUSANTARA (Telaah Kritis Terhadap Tradisi Pelet Betteng Pada Masyarakat Madura dalam Perspektif Hukum Islam)

Buhori Buhori

Abstract


Abstract

Religion and culture are main elements in an interconnected society. When a religion enters a community, there will be a trade-off between the religion and culture e.g. when Islam is descended at Arab which has old tradition. Tradition is part of culture, for that it is not a surprise that every country has tradition including Indonesia. One of Indonesian local tradition is madurese tradition: Pelet Betteng or Pelet Kandhung or Peret Kandung or Salamenddhen Kandhungan which constitutes a pregnancy ritual. It is held by making du’a and giving alms in the fourth or seventh month of pregnancy period of a woman who is pregnant for the first time (seriyang). According to sharia perspective, Islam presents without ignoring Arabian tradition (`adah) and convention. They are even considered as sources of Islamic jurisprudence with particular limitations. Therefore, the term of `adat which has a similar meaning to `uruf, has become a basic of istinbath hukm.

Keywords: Islam, Local Tradition, Islamic Law.

 

Abstrak

Agama dan budaya merupakan dua unsur penting dalam masyarakat yang saling mempengaruhi. Ketika ajaran agama masuk dalam sebuah komunitas yang berbudaya, akan terjadi tarik menarik antara kepentingan agama di satu sisi dengan kepentingan budaya di sisi lain. Demikian juga halnya dengan agama Islam yang diturunkan di tengah-tengah masyarakat Arab yang memiliki adat-istiadat dan tradisi secara turun-temurun. Tradisi merupakan bagian dari budaya. Salah satu tradisi lokal yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya suku Madura adalah Pelet Betteng,atau terkadang dikenal dengan sebutan Pelet Kandhung atau Peret Kandung atau Salameddhen Kandhungan, yangsecara sederhana diartikan sebagai pijat kandungan atau selamatan kehamilan. Tradisi ini merupakan upacara selamatan yang dilakukan dengan cara pembacaan do`a-do`a dan sedekah, ketika seorang wanita tengah mengandung pertama kalinya (Madura: seriyang) pada saat usia kehamilan mencapai empat bulanatau tujuh bulan.Dalam persepektif hukum Islam, ternyata ajaran Islam sangat memperhatikan tradisi (Arab: `adah) dan konvensi masyarakat untuk dijadikan sumber bagi jurisprudensi hukum Islam dengan penyempurnaan dan batasan-batasan tertentu.Terma `adat yang memiliki kesamaan makna dengan `uruf telahmenjadi salah satu landasan dalam istinbat hukum Islam.

Kata Kunci: Islam, Tradisi Lokal, Hukum Islam.


Keywords


Islam; Local Tradition; Islamic Law

Full Text:

PDF

References


Al-Qur`an dan Terjemahan.

Abu Bakar Ahmad Bin Husin al-Baihaqi, Dalail an-Nubuwah wa Ma`rifati Ahwal Sohibi as-Syari`ah, (Bairut: Darul Kutub al-`Ilmiyyah, TT).

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008).

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008)

Muslim A. Kadir, Dasar-Dasar KeberagamaanDalam Islam, (Yoyakarta: PustakaPelajar, 2011).

Riyadh bin Mansur al-Akholifi, al-Mihhaj fi `ilmil Qowa`id al-Fiqhiyyah, Juz 1 (Maktabah Syamilah, Isdor Tsnai).

Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama 3, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, 2012).

Soleiman Fadeli & M.Subhan, Antologi Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU, Buku I, (Surabaya: Khalista, 2010)

Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Abul Qosim Al-Tobroni, Al-Mu`jam al-Kabir, Juz 9 (Maktabah Syamilah, Isdor Tsnai).

Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat, (Jakarta: LP3S, 1996).

http://arsip budaya nusantara.blogspot.co.id/2014/11/ upacara pelet kandhung pada masyarakat.html.


Article Metrics

Abstract view : 8 times
PDF - 15 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Buhori Buhori

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

FOOTER AL MASALAHAH