Jejaring Keilmuan Ulama Borneo (Kajian atas Naskah Korespondensi Naib Kadhi Tutong-Brunei dengan Maharaja Imam Sambas )

Erwin Mahrus, Arif Sukino

Abstract


Kesultanan-kesultanan Melayu di Borneo memiliki tradisi keilmuan yang relatif baik. Para ulama di kawasan ini meninggalkan sejumlah karya tulis yang masih dapat dijumpai hingga kini. Di samping itu, ulama-ulama ini terhubung dalam jaringan ulama lokal, regional, bahkan internasional. Di antara ulama-ulama tersebut adalah Syekh Arsyad Banjar (1710-1812), Syekh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875), dan Syekh Muhammad Basiuni Imran (1885-1976). Ulama-ulama ini telah memainkan peranan penting dan strategis dalam melakukan proses islamisasi di pulau terbesar ketiga di dunia ini. Tulisan ini mendeskripsikan jejaring keilmuan antara Brunei dan Sambas (Indonesia). Fokus kajiannya adalah korespondensi antara Naib Kadhi Tutong-Brunei, Awang H. Mas Hanafi dan Maharaja Imam Sambas, H. Muhammad Basiuni Imran. Melalui korespondensi ini penulis berhasil mengungkap isu-isu yang berkembang di dalam jaringan selama korespondensi berlangsung. Selanjutnya, penulis juga menggambarkan karakteristik hubungan kedua ulama tersebut di dalam jaringan yang mereka bangun.

Keywords


Jejaring keilmuan, naskah, naib kadhi, maharaja imam

Full Text:

PDF

References


Awang H. Mas Hanafi kepada H. Muhammad Basiuni Imran, 27 September 1951

[Surat] Awang H. Mas Hanafi kepada H. Muhammad Basiuni Imran, 4 Oktober 1951

[Surat] Awang H. Mas Hanafi kepada H. Muhammad Basiuni Imran, 6 September 1951

[Surat] H. Muhammad Basiun Imran kepada Awang H. Mas Hanafi, 18 Oktober 1951

A. Muis Ismail, Riwayat Hidup Maharaja Imam Sambas, H. Muhammad Basiuni Imran, Pontianak: Laporan Penelitian Universitas Tanjung Pura Pontianak, 1993

Abdul Karim bin H. Abd. Rahman, Sejarah Brunei dari Perspektif Borneo: Penyelidikan Jejak Kesultanan Borneo, dalam Pusat Sejarah Brunei, Pemuliharaan Sejarah dan Tamadun Borneo ke Arah Pengukuhan Negara Bangsa, Brunei Darussalam: Pusat Sejarah Brunei, 2007

Awang Abdul Aziz bin Awang Juned, Islam di Brunei, Brunei Darussalam: Pusat Sejarah Brunei, 1992

Dayang Hajah Joriah binti Metali, Pehin Orang Kaya Udana Laila Dato Setia Inche’ Awang Abdullah, chapter dalam Puak Tutong, Brunei Darussalam: Pusat Sejarah Brunei, 2004,

Kerajaan Sambas, Atoeran (Oendang-oendang) Baitul Mal di Keradjaan Sambas, tt.

Maharaja Imam Sambas, “Inilah Asal Moela-moela jang Djadi Orang Besar di Negeri Beroenai”, 1940

Maharaja Imam Sambas, “Sultan-sultan jang Bertoeroen Temoeroen di Negeri Beroenai”, 1940

Muhammad Basiun Imran, Cahaya Suluh, Singapura: Percetakan Al-Ikhwan, 1920

Muhammad Basiuni Imran, Daftar Sedjarah Perdjalanan Hidup dari Hadji Mohammad Basioeni Imran, Maharaja Imam Sambas, 1950

Muhammad Basiuni Imran, Tugas Mulia dan Tanggung Jawab Manusia di Hadapan Tuhan, 1962

Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma, Laporan tentang Kontrak dan Riwajat Radja-raja, 1951

Pijper, G.F., Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia, terjemahan Tudjimah, Jakarta: UI Press. 1987

Radin Muhammad Hamzah, Tarikh Sultan-sultan Sambas dan Hubungannya dengan Kesultanan Brunei, dalam Pemuliharaan Sejarah dan Tamadun Borneo ke Arah Pengukuhan Negara Bangsa, Brunei Darussalam: Pusat Sejarah Brunei, 2007

Sri Paduka Sultan Muhammad Shafiyuddin, Salsilah, Sambas, 1903




DOI: https://doi.org/10.24260/at-turats.v13i2.1466

DOI (PDF): https://doi.org/10.24260/at-turats.v13i2.1466.g745

Article Metrics

Abstract view : 56 times
PDF - 16 times

Article Metrics

Abstract view : 56 times
PDF - 16 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.