The PDF file you selected should load here if your Web browser has a PDF reader plug-in installed (for example, a recent version of Adobe Acrobat Reader).

If you would like more information about how to print, save, and work with PDFs, Highwire Press provides a helpful Frequently Asked Questions about PDFs.

Alternatively, you can download the PDF file directly to your computer, from where it can be opened using a PDF reader. To download the PDF, click the Download link above.

Fullscreen Fullscreen Off

Abstract


Ideologi merupakan hal penting dalam kehidupan manusia, sebagai cita-cita sekaligus sistem pemikiran yang mengendalikan perilaku di dalamnya, termasuk dalam diskursus kebangsaan dan kenegaraan. Meskipun demikian, dewasa ini kesadaran terhadapnya justru dipertentangkan dengan berbagai fakta dan peristiwa yang tidak berkaitan dengan nilai. Kenyataan tersebut justru menimbulkan masalah baru bagi masyarakat. Sikap apatis ditunjukkan secara massif oleh kalangan akademisi muda dengan fenomena antusiasme rendah terhadap pembahasannya. Sementara itu, ideologi terus berkembang seiring perkembangan zaman. Teknologi informasi dan komunikasi turut andil dan muncul sebagai etalase menarik. Bahkan dalam penekanan tertentu, radikalisme dan terorisme muncul sebagai hasil transformasi ideologis akibat lemahnya filtrasi terhadap informasi yang beredar secara liar. Dalam upaya deradikalisasi tersebut, artikel ini mengajukan peran Pendidikan Kewarganegaraan khususnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan model pengembangan pendidikan terintegratif. PTKIN sebagai lembaga pendidikan keagamaan, telah hadir sebagai arena pengembangan ilmu dengan melibatkan Tri Dharma sehingga output dan outcome-nya dapat dimanfaatkan masyarakat secara langsung. Dalam tahap tersebut, Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pengemban pendidikan kepribadian, harus mampu menransformasikan ideologi Pancasila sebagai urat nadi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dituntut keluwesan di dalamnya, termasuk melibatkan diri secara terpadu dengan disiplin berdasarkan identitas keislaman sebagai karakteristik pengembangan ilmu PTKIN. Keterpaduan tersebut dapat dilakukan secara utuh tanpa mempertentangkan gagasan dasar setiap nilainya dengan cara mengadopsi model pembelajaran terintegratif. Model pembelajaran tersebut akan mendobrak daya kritis peserta didik, sehingga keberdayaannya membentuk kemandirian dalam proses filtrasi terhadap berbagai pengetahuan ideologis yang berkembang pesat dewasa ini.