The Philosophical Meanings Of The Ma'duangan Ceremonial Culture (Patang Puloan) In Batunoni Village Anggeraja District Enrekang Regency

Autor(s): Alamsyah Alamsyah
DOI: 10.24260/khatulistiwa.v12i1.2268

Abstract

Tradition is a word that cannot be separated from a nation, including the Indonesian nation which is a compound country with the largest multiculture in the world. Indonesia has more than 17,000 islands stretching from Sabang to Merauke, where each region has a different culture. This research aims (1) to find out the implementation of ma'duangan tradition in Enrekang regency. (2) to know the philosophical meaning and values contained in the implementation of the Ma'duangan or Patang puloan tradition. This study is ethnographic research. Data collection techniques are carried out by means of interviews and documentation, the data analysis used is qualitative descriptive analysis. The results of this study show that: (1). The implementation of the Ma'duangan or Patang Puloan tradition is the culmination of events in a series of events/rituals of death ceremonies in Batunoni Village which starts from sangbonginna (first night) which consists of two types of activities, namely day and night activities, mangbongi tallu (third night), mangbongi pitu (seventh night), and mangpatang puloan (fortieth night) consisting of two stages of the event, the first is mangpellao (lowering), the second is manggere tedong (slaughtering buffalo). (2) The philosophical meaning contained in the ma'duangan event; a. The value of togetherness and a sense of solidarity. b. Foster cooperation in the form of gotong royong. c. The value of trust is recommended to the community to maintain the noble values contained in the implementation of the Ma'duangan tradition (patang puloan) as a guideline in public life, despite the development of the times (Globalization), education and religion (belief) which is very influential on society to make changes.

Keywords

ithe meaning philosophical, tradition, culture, customs

Full Text:

PDF

References

Abubakar, Mustafa. 2006. Menata Pulau-Pulau Kecil Perbatasan: Belajar dari Kasus Sipadan, Ligitan dan Sebatik. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Adriana. 2013. Makna Filosofi. http://id.shvoong.com/humaies/philosop

hy/2125904-makna-filosofi. Diakses pada tanggal 25 Juni 2022.

Ahmad, Abdul Kadir. 2020. “Geliat, Dilema Satu Rumah Dua Negara dan Tradisi Keagamaan sebagai Kekuatan Pemersatu di Kalangan Muslim Sebatik.” Al-Qalam 26 (1): 1–18.

Aini, S. 2013. Tari Inai dalam Konteks Upacara Adat Perkawinan Melayu di Batang Kuis.

Akmal, A., & Muslim, A. 2019. Peran Orang Bugis Mengembangkan Pendidikan Islam di Kota Injil Manokwari. PUSAKA, 7(2), 169- 188.

Azis, 2003. Toraja. Yogyakarta: Ombak.

Budiman, Manneke. 2011. Ethnicity and the performance of identity‟, Wacana 13/2.

Cortesão, Armando. 1944. The Suma Oriental of Tomé Pires: An Account of the East from Read Sea to Japan written in Malacca and India in 1511- 1644. Diterjemahkan Dari Portuguese MS Dalam Bibliothèque de La Chambre Des Députtés, Paris. Edited by Armando Cortesão. London: The Hakluyt Society.

Hartatik, S. 2013. Upacara Ttradisi Yang Masih Berkembang di Masyarakat Seputar Makam Tokoh di Jawa Tengah. Universitas Diponegoro: Semarang.

Humaedi, M. Alie. 2013. “Dilema Peran Kelompok Haji dalam Penguatan Tradisi Budaya dan Sosial Keagamaan: Studi Kasus Masyarakat Sungai Nyamuk Sebatik.”Masyarakat dan Budaya 15 (1): 31–56.

Ismail, Ibnu. 2011. Islam Tradisi Tetes peblimbing: Kediri

Mubah, A. S. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Jurnal Unair, 24(4), 302-308.

Mubah, Safril: Strategi meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapi arus globalisasi, tahun 2011, Departemen perhubungan internasional, Fisip, Universitas airlangga, Surabaya. Vol. 24, no. 4 l, 2011. Pp. 302-308.

Muhidin. 2012. Pengklaiman Budaya Indonesia. www.budaya-indonesia.org. (09 Mei 2022).

Muhyidin. Asep. 2009, Pemertahanan Nilai-Nilai Budaya Lokal dalam pembelajaran sastra di sekolah/kemendikbud.go.id. (01 Juni 2022).

Noorduyn, J. 1987b. “Makassar and the Islamization of Bima.”In Bijdragen Tot de Taal-Land En Volkenkunde van Nederlandsch Indie. BKI.

Nurdin. 2012. Maccera Manurung. http://melayuonline.com/ind/news/re

ad/14939/maccera-manurung-bersyair-sambil-ayunkan-badik-di-depan-raja. (28 Juni 2022).

Parung, Christabel Annora P. dkk. Pola Ruang dalam Banua Tongkonan dan Banua Barungbarung di Dusun Tonga, Kelurahan Panta’nakan Lolo, Toraja Utara (Laporan Penelitian). Malang: Universitas Brawijaya.

Ricklefs, M.C. 2008. Religion Politics and Social Dynamics in Java: Historical and Contemporary Rhymes‟ dalam: Greg Fealy dan Sally White (eds) Expressing Islam. Religious Life and Politics in Indonesia. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Sande, J.S. 1989. Toraja in Carving. Ujung Pandang: Balai Penelitian Bahasa.

Sir, Mohammad Mochsen. 2015. “Pengetahuan Tektonika Arsitektur Tongkonan” Makalah dalam Seminar Nasional dan Lokakarya Nasional Pemahaman Sejarah Arsitektur (LNPSA)XI-2015. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Sitonda, Mohammad Natsir. 2012. Sejarah Massenrempulu. Tim Yayasan Pendidikan Mohammad Natsir: Makassar.

Soeherman. 2009. Filsafat Hukum, Membangun Hukum, Membela Keadilan. Kansius: Yogyakarta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Suhardi dan Joko Mudji Rahardjo. 2000. Tana Toraja dan Masyarakatnya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Sutrisno, M. 2006. Oase Estetika: Estetika dalam Kata dan Sketsa. Kansius: Yogyakarta.

Tangdilinting, L.T. 1979. Tongkonan (Rumah Adat Toraja): Arsitektur & Ragam Hias Toraja. Tana Toraja: Yayasan Lepongan Bulan.

Tangketasik, Jansen. 2010. Antara Negara dan Tongkonan: Ruang- ruang Negosiasi dalam Penguasaan Sumber daya Hutan Di Kabupaten Tana Totraja, Sulawesi Selatan (Disertasi). Depok: Universitas Indonesia

Tjahjono, Gunawan. 2002. Indonesian Heritage: Arsitektur, Jakarta: Buku Antar Bangsa.

Tomo, Putra. 1998. Metodologi Penelitian Sosial. Jararta: CV Bina Aksara.

Ujan, A. 2007. Filsafat Hukum, Membangun Hukum, Membela Keadilan Kansius: Yogyakarta

Refbacks

  • There are currently no refbacks.