Islam and Bugis in West Kalimantan

Patmawati Patmawati, Nurfaidah M.

Abstract

The Bugis people generally have tough character because of maritime and competitive traditions, as well as sufferings as a result of the colonialism. They also strongly uphold their honor. In West Kalimantan, the Bugis are also identical with Islam. The history of the arrival of the Bugis people in West Kalimantan can be traced, at least, to three stages which will be covered in this paper, namely in 1667 during the Treaty of Bungaya, and in late1946 through early 1947 when there was mass murder where 40,000 people were killed, and in 1950 when there was a revolt of DII/TII led by KaharMuzakkar. A year later, the migration happened because they were looking for a job as a civil servant (PNS). The role of the Bugis in the spread of Islam in West Kalimantan is known through education conducted by To-Panrita, To-Sugi, To-Warani, dan To-Sulasena.

Keywords

Islam; Bugis; West Kalimantan

Full Text:

PDF

References

Abu Hamid. 2004. Pasompe Pengembaraan Orang Bugis, Makassar: Pustaka Refleksi.
Adrian B. Lapian. 2008. Orang Laut Bajak Laut Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Jakarta: Komunitas Bambu bekerjasama dengan Ecak Frencaise d’Extreme-Orient.
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga DDI, 1968.
Baidhillah Riyadhi. 2010. “Guru Haji Ismail Mundu Tokoh Pendidik Kerajaan Kubu” (Makalah yang disampaikan pada Seminar Konferensi Antarbangsa Islam Borneo III di STAIN Pontianak), tanggal 4-5 Oktober.
----------. 2011. Guru Haji Ismail Mundu (Ulama Legendaris Dari Kerajaan Kubu), Kubu Raya: Dinas Kebudayaan Pariwisata.
Christian Pelras. 2006. The Bugis. terjemahan Abdul Rahman dkk. Dengan judul “Manusia Bugis”, Jakarta: Nalar.
Didik M. Nur Haris. 2010. “Kitab Jadual Nikah Karya Guru Haji Ismail Mundu: Teks dan Analisis” (Makalah yang disampaikan pada Seminar Konferensi Antarbangsa Islam Borneo III di STAIN Pontianak), tanggal 4-5 Oktober.
Ellyas Suryani bin Soren dkk. 2001. Sejarah Mempawah Dalam Cuplikan Tulisan, Kabupaten Pontianak: Bina Ilmu Mempawah.
H.A. Rahman Rahim, 1992, Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis, Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.
Hendro Suroyo Sudagung, 2010, Mengurai Pertikaian Etnis: Migrasi Swakarsa Orang Madura ke Kalimantan Barat, Institut Studi Arus Informasi (ISAI) bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Fondation.
J.U. Lontaan, 1975, Sejarah-Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, Jakarta: Bumi Restu.
Kamanto Sunarto, 2004, Pengantar Sosiologi, Jakarta: Fakultas Ekonomi UI.
Kathryn Robinson dan Mukhlis Paeni (peny.), 2005, Tapak-tapak Waktu Kebudayaan, Sejarah dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan, Makassar: ININNAWA.
Leonard Y. Andaya, 2004, Warisan Arung Palaka Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke 17, Makassar, ININNAWA.
Mattulada, 1985, Latoa, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
M.D. La Ode, 1997, Tiga Muka Etnis Cina, Yogyakarta: Bigraf Publishing.
Norazit Selat, 1993, Konsep Asas Antropologi, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
Saifullah Muzani (ed.), 1998, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. DR. Harun Nasution, Jakarta: Mizan.
Tim Peneliti STAIN Pontianak, 2010, “Sejarah Kesultanan Sambas Kalimantan Barat”, Laporan Hasil Penelitian LP3M STAIN Pontianak.
Yusriadi, 2008, Memahami Kesukubangsaan di Kalimantan Barat, STAIN Pontianak Press.
----------- dkk., 2005, Etnisitas di Kalimantan Barat, Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Zulkifli Abdillah, 2010, Kepingan-kepingan Sejarah Umat Islam, Pontianak: STAIN Pontianak Press.

Article Metrics

Abstract views: 1188 PDF views: 671